DEBU SETIA



Debu itu masih setia berbaring di sepanjang jalan kita

Jalan ini mencipta kata bijak, belah kesombongan waktu yang jemu berlari mengumbar kebisingan yang gusar

Meski air cemburu dengan aliran listrik, hujan tak pernah melupakan jadwal kerjanya.
Hanya saja kepongahan kemarau mendiaspora kejujuran.
Akhirnya alam pun suka tak menepati janji

Kini aku tak lagi bermain di luar rumah
Mengintai bayanganmu yang tak lagi ramah

Ada rasa takut yang tak kumengerti

Mengintip dari celah tirai berani

 

Sebab suaraku tak lagi dapat menggapaimu
Hanya menyisakan gelap berlapis pekat
Memasung cara pandang 
Melipat jarak membentang
Kabut putih membalut cakrawala

Kicau burung berceloteh di dalam kepalaku
Menjadi serpihan bunyi yang terabaikan
Senja kehilangan rekah jingganya

gontai menuju malam tanpa rembulan

Auranya begitu berat memanggul dingin yang memburu

Titahkan segaris waktu: jangan lelah! Terus melangkah!

Tertatih, melambat dan ambruk berkalang debu

Peluh kan menyapa nurani paksa raga lepaskan resah







Posting Komentar

0 Komentar