Konspirasi


Apa yang terbayang dalam benak Anda saat membaca kata konspirasi. Kebayang kan kalau ternyata hampir semua urusan kita saat ini selalu bersinggungan dengan tema itu. Sebab uang kertas yang jadi "majikan" kita itu adalah buah darinya. Ada sebuah buku yang sangat keren, dan isinya benar-benar vulgar mengupas tentang tema tersebut. Henry Makaw, Ph.D dengan lugas membeberkan sebuah konspirasi besar level dunia yang sangat berbahaya bagi tatanan negara-negara yang berada di bawah pengaruhnya. Bagaimana tidak, mereka adalah gerombolan yang dengan lantang menyebut diri mereka pengikut setan. Penulisnya mengupas tuntas fakta-fakta yang menunjukkan siapa sebenarnya yang mengendalikan masyarakat dunia dewasa ini. Zionisme,

Saat ini kita sedang sibuk dengan Covid-19. Apakah itu merupakan bagian dari konspirasi? Lord Denis Healey, seorang mantan sekretaris Menteri Pertahanan dan Keuangan Inggris, menyatakan bahwa : "Kejadian-kejadian dunia tidak terjadi secara kebetulan. Mereka diciptakan, baik yang berkaitan dengan isu-isu nasional atau perdagangan.Sebagian besar dihadirkan dan diatur oleh mereka yang memegang tali kendali". Pernyataan beliau secara umum mengindikasikan bahwa Covid-19 adalah peristiwa yang diciptakan untuk memenuhi kepentingan para pemegang tali kendali.

Memang jarak saat pernyataan itu disampaikan dengan peristiwa virus corona jauh dan pastinya pernyataan Lord healey tersebut tidak bisa diklaim kebenaran dugaan bahwa virus corona adalah sebuah konspirasi dari para pengendali dunia.

Di zaman gampangnya mendapatkan informasi ini justru membuat informasi itu sendiri jauh dari kebenarannya. Sebab akan rentan untuk digoreng dan dipermainkan oleh orang-orang sesuai dengan kepentingan masing-masing. Buktinya adanya undang-undang IT, di mana setiap informasi yang disampaikan lewat media internet harus memenuhi kriteria sesuai undang-undang tersebut. Meskipun prakteknya justru tambah banyak media yang melanggar undang-undang tersebut. Memang sepertinya undang-undang itu dibuat untuk menambah pelaku-pelaku pelanggatan. Hehehehe.

Dan jangan lupa media itu sendiri adalah alat yang sangat efektif untuk menebar konspirasi. Coab difikir, siapa ujung-ujungnay yang menguasai media, bagaimana media itu diperlakukan oleh masyarakat, dan akhirnya media pula yang menjadi alat pelindung dosa sekumpulan pemegang kendali.

Demokrasi? Ah saat ini kita sulit menemukan definisi yang tepat untuk satu kata itu. Dari yang dipelajari di bangku sekolah dan kuliah dengan praktek yang dimodelkan oleh para awak negara sangat bertolak belakang. Demokrasi sebenarnya yang menjadi biang suburnya virus konspirasi ini.

Berbahagialah bagi orang yang tidak berambisi menjadi populer, atau orang yang selalu gagal me jadi populer. Allah masih sayang kepada orang-orang ini. Popularitas sangat murah saat ini. Tak perlu berjuang seperti masa-masa dulu. Maka nilai prestis dari popularitaspun slide down seiring dengan resiko-resiko yang mulai diraskan oelh para pemburu popularitas. Minimal resiko moral. Mudah berbohong untuk menutupi kekurangannya. Ada aturan tak tertulis yang menyebutkan bahwa tidak boleh ada kekurangan pada popularitas. Itu membenam dan mengakar di mindset para pemburu popularitas. Harga diri sudah bergeser sangat jauh. Dulu bohong itu membuntungkan tapi sekarang bohong itu menguntungkan. Berbondong-bondong orang memproduksi kebohongan lewat media-media sosial demi sebuah pengakuan semu dari para follower. Padahal haternya juga banyak. hehehe.

Mereka yang suka dengan popularitas inilah yang menjadi korban konspirasi, tapi mereka tak menyadari. Dengan tangan-tangan mereka konspirasi ini semakin tumbuh subur dan menyebar seperti jamur di musim hujan. Mereka ini pulalah yang mematikan budaya-budaya moral, kesopanan dan nilai-nilai agama di tengah masyarakat. Sekularisme tanpa mereka sadari sudah masuk dalam paradigma mereka. Bahwa agama dan dunia tidak ada hubungannya kecuali akan menghasilkan kehancuran, seperti rel sepur tidak mungkin akan bersatu. Urusan ibdah yan di Masjid, urusan dunia ya di luar masjid. Itu yang tadi dikatakan korban dari konspirasi. Konspirasi untuk mengeluarkan kepakaran dalam agama bagi para pemeluknya.

Hati-hati konspirasi itu sudah masuk di dalam rumah kita, kamar tidur kita bahkan saat kita buang air. Begitu dekat dan akrabnya kita dengan satu kata ini. tapi kita tidak pernah menyadarinya.

Posting Komentar

0 Komentar