Mimpi adalah Keyakinan

Pernahkah kita menyaksikan seekor burung yang terbang di pagi hari. ia terbang dengan perut keroncongan. Pagi itu pun ia tak tahu harus mencari makanan di mana dan dengan cara apa. Satu hal saja yang ia tetap genggam, keyakinan. Itulah mimpinya hari ini. Mimpi seekor burung adalah berupa keyakinan bahwa Allah akan memberinya rizki hari ini. Maka dengan mimpi itu ia tak pernah sedikitpun mengeluh, putus asa, dan merasa lelah untuk beruasaha. Benar saja, sore hari ia pulang ke sarang dengan perut kenyang dan membawa oleh-oleh untuk keluarganya.
Proses burung itu dari pagi hingga sore, bukanlah tanpa kendala, tapi sarat aral melintang. Panas terik menyengat. Hujan badai sewaktu-waktu mengancam. Persaingan dengan sesama teman. Itu semua telah dilaluinya. Tapi ia takkan kembali pulang sebelum membawa sesuatu untuk anak-anaknya.
Sungguh sederhana cara hidup makhluk Allah tersebut. Tidak pernah menjadikan kendala hidupnya sebagai aral yang menghentikan langkahnya meraih mimpi. Esok hari ia pun berangkat dengan tatapan tajam seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada galau, ragu, takut. Semua itu telah ia lupakan ketika melihat anak-anaknya bahagia menikmati makanan yang ia bawa.Itulah cerminan keyakinan hidup. Seekor burung telah mengajarkan keyakinan hidup tentang rizki. Keyakinan bahwa Allahlah yang memberi rizki.
Manusia, justru dengan banyaknya saraf dalam otaknya menciptakan cara hidup yang rumit dan tak pernah bisa menyederhanakannya. Rumit, serumit keyakinannya terhadap Pemberi Rizkinya. Rumit, serumit tuntutannya terhadap kebaikan hidupnya. Dan sekali lagi rumit, serumit mimpinya yang tak pernah puas ia capai.
Kita harus belajar dari kehidupan seekor burung! Meskipun hanya seekor burung.

Posting Komentar

0 Komentar